Posisi Seks Paling Favorit

Posisi Seks Paling Favorit

Seks menyangkut masalah pribadi masing-masing dan tentu pasangan kita. Seks dan posisinya adalah urusan personal masing-masing orang. Namun, pernahkah Anda merasa penasaran dan ingin mengetahui posisi seks kesukaan tetangga atau teman?

Mungkin tidak, tetapi sekelompok peneliti di DrEd, situs medis untuk dokter dan pasien di Inggris, ingin mengetahui perilaku seksual warga Britania Raya dan Amerika Serikat, sekaligus apa yang menjadi kekhawatiran mereka saat bercinta.

Setelah mensurvei lebih dari 2.000 orang di kedua negara tersebut, mereka menemukan bahwa mayoritas responden yaitu 35,1 persen menyukai gaya doggy saat bercinta, diikuti dengan gaya klasik missionary dan cowgirl atau wanita di atas.


Walaupun tidak mengetahui secara pasti, tetapi DrEd memperkirakan bahwa alasan banyak wanita menyukai posisi cowgirl adalah karena mereka bisa memegang kendali lebih terhadap jalannya proses bercinta.

Sementara itu, posisi yang paling tidak disukai oleh responden adalah posisi tabletop atau bercinta di atas meja. Namun, hal ini kemungkinan besar karena mereka belum pernah mencobanya. Sebab, tabletop juga terpilih sebagai posisi yang paling ingin dicoba.


Di samping posisi, para peneliti juga bertanya kepada responden mengenai apa yang menjadi kekhawatiran terbesar mereka saat berhubungan seks.

Ternyata, banyak pria yang merasa takut melukai pasangannya saat bercinta dan banyak wanita yang khawatir karena merasa tidak cukup fleksibel untuk melakukan posisi yang diminta pasangan.

Selain itu, kekhawatiran terbesar wanita lainnya adalah penampilan fisik mereka seperti yang diungkapkan oleh satu dari lima responden wanita. Mereka menjawab bahwa kekhawatiran terbesar mereka adalah saat merasa terlalu besar atau berat saat bercinta.

Alasan Kesepian Lebih Terasa Saat Malam Hari

Alasan Kesepian Lebih Terasa Saat Malam Hari

Seharian bekerja dan bertemu banyak orang. Kemudian, Anda pulang ke rumah dan merasa sendiri karena tentu saja Anda masih melajang. Lalu, mengapa Anda merasa benar-benar begitu sepi ketika waktu malam menepi?

Menurut Amy Banks, seorang psikiater dan pendiri komunitas Jean Baker Miller Institute di Wellesley College, kondisi tubuh yang telah menurun membuat Anda lebih peka pada emosi negatif yang menyerang pikiran Anda.

Banks yang juga menulis buku Wired to Connect menjelaskan bahwa kesepian tidak melulu karena Anda tidak memiliki pasangan, tetapi lebih kepada kondisi tidak terhubung dengan siapa pun.


“Memiliki sahabat dan keluarga yang hangat bisa membuat hidup Anda lebih berarti, meskipun Anda tak memiliki pasangan,” terang Banks.

Kesepian, kata Banks, terjadi karena tiga penyebab.

Pertama, Anda tidak merasakan bentuk emosi bernama zest, yakni energi yang menyala dalam tubuh Anda ketika membicarakan topik menarik dan lucu dengan sahahabat atau keluarga.


Kedua, Anda terjebak dalam kondisi tidak percaya diri terhadap lingkungan sekitar. Anda tidak mempercayai teman, rekan kerja, dan hubungan yang tidak lagi membuat Anda bersemangat.

Ketiga, Anda tidak menilai diri sendiri dengan baik dan tinggi.

Ketidakhadiran tiga hal itu menciptakan sela kosong dalam hati yang membebani pikiran Anda sehingga Anda pun merasa kesepian dan semakin tersiksa saat malam datang.

Banks menjelaskan rasa kesepian tidak dicetuskan karena tidak memiliki pasangan, tetapi lebih kepada tidak memiliki sahabat, rekan kerja yang inspiratif, dan keluarga yang menjadi sistem pendukung keseluruhan hidup Anda.